Warning: Use of undefined constant REQUEST_URI - assumed 'REQUEST_URI' (this will throw an Error in a future version of PHP) in /www/wwwroot/www.dokterkhitan.com/wp-content/themes/skt-solar-energy/functions.php on line 73
Anak Anda Mau Sunat? Ini Dia Fakta dan Mitosnya (Bagian 3) - Dokter Khitan

Anak Anda Mau Sunat? Ini Dia Fakta dan Mitosnya (Bagian 3)

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Berikut ini adalah beberapa hal yang berhubungan dengan fakta dan mitos seputar khitan yang masih beredar ditengah-tengah masyarakat kita.

1. Khitan hanya sekadar Adat, bukan ajaran Islam

Bangsa Indonesia mengenal khitan sebelum Islam datang, seperti masyarakat Banten misalnya. Dalam sebuah catatan sejarah permulaan masuknya agama Islam di wilayah kerajaan Padjajaran, kropok 406 cerita Parahiayangan diungkapkan bahwa: “Sumbelihan niat inya bresih suci wasah, disunat ka tukangnya jati sunda teka”. Terjemahannya adalah sebagai berikut: “Disunat agar terjaga dari kotoran, bersih suci bila dibasuh, dikhitan pada ahlinya, merupakan kebiasaan adat Sunda yang sesungguhnya”, dari catatan tersebut dapat ditafsirkan bahwa tradisi khitan (laki-laki dan perempuan) telah dikenal oleh masyarakat Sunda jauh sebelum Islam berkembang di wilayah tersebut. Kedatangan Islam yang memuat ajaran tentang khitan terutama khitan laki-laki merupakan penyempurnaan religi atas adat dan tradisi yang telah lama dianutnya.
Namun yang perlu dipahami, tatkala seorang muslim melakukan khitan, landasan utamanya hedaknya bukan hanya mengikuti adat saja. Namun hendaknya meyakini bahwa khitan merupakan ajaran Islam dan perintah agama. Sebagian kaum muslimin masih belum menyadari hal ini. Mereka melakukan khitan karena mengikuti adat semata, Hal ini kurang tepat. Seorang muslim tatkala melakukan khitan harus disertai niat  bahwa ini merupakan perintah agama dan bagian dari kewajiban yang bernilai ibadah. Dengan demikian seseorang akan mendapat pahala dengan melaksanakan ibadah khitan. Faktanya, menurut ilmu medis dan pengetahuan modern khitan terbukti dapat menjaga higienitas alat kelamin pria, sehingga mencegah infeksi, menurunkan risiko fimosis, mencegah kanker penis, pencegahan dalam penularan AIDS dan penyakit menular seksual lainnya.

2. Tidak boleh khitan bersama saudara kandung dalam waktu bersamaan.

Apakah anda pernah mendengar ada mitos yang tersebar di masyarakat bahwa bila saudara kandung bersamaan waktu khitannya maka salah satu di antara mereka ada  yang bermasalah dengan hasil khitannya? Keyakinan seperti ini juga keyakinan yang keliru dan bertentangan dengan agama Islam. Kesembuhan khitan tidak dipengaruhi oleh kondisi khitan bersamaan antara saudara kandung. Kesembuhan khitan dipengaruhi oleh kondisi kesehatan, perawatan luka, serta faktor nutrisi anak yang dikhitan. Jadi jika ada saudara kandung yang khitan dalam waktu bersamaan, hal ini tidak masalah asalkan pada saat tindakan khitan tidak berada dalam ruangan yang sama. Dikhawatirkan salah satu dari mereka ada yang terpengaruh psikisnya akhirnya takut dan tidak jadi dikhitan.

3. “Hari Baik” untuk khitan

Kepercayaan terhadap pemilihan waktu-waktu tertentu untuk khitan masih sering ditemukan pada zaman modern ini.  Ada yang mengkhususkan waktu khitan berdasarkan hari lahir, hari baik yang sudah diperhitungkan, atau hari-hari tertentu lainnya. Perbuatan ini disertai keyakinan bahwa waktu tersebut adalah waktu yang baik untuk melakukan khitan dan tidak boleh melakukan khitan di luar waktu-waktu yang telah ditentukan tadi. Kalau melakukan khitan di luar waktu tadi akan mendapat petaka/celaka. Hal ini tidak benar dan bertentangan dengan ajaran Islam. Semua waktu adalah waktu yang baik untuk berkhitan. Pemilihan waktu khitan tidak ada hubungannya dengan nasib baik dan buruknya seseorang. Pada hakikatnya nasib baik dan buruknya seseorang merupakan ketetapan dari Allah Ta’ala, tidak ada hubungannya dengan waktu-waktu tertentu. Meyakini bahwa hari-hari tertentu merupakan hari sial atau hari keberuntungan sehingga menyebabkan seseorang melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan termasuk keyakinan yang dilarang dalam Islam, bahkan bisa termasuk dosa syirik.

4. Mengubur bagian kulit yang dipotong.

Pada masyarakat adat orang Betawi, proses penguburan kulup dilakukan secara tradisional. Biasanya kulup akan dikubur dengan menggunakan kelapa hijau. Caranya ialah kulup tersebut dibawa pulang ke rumah kemudian dimasukan di dalam kelapa yang telah dibuka dan selanjutnya di kubur di depan pintu rumah. Ada kepercayaan jika proses penguburan dilakukan dengan cara demikian maka kemaluan si anak habis dikhitan akan terasa dingin.

Ada sebagian orang tua yang anaknya dikhitan meminta agar bagian kulup penis yang dipotong untuk dibawa pulang untuk dikubur. Sebagian orang  yang melakukan perbuatan ini disertai  keyakinan tertentu bahwa dengan mengubur bagian kulup penis yang dipotong tadi dapat “membuang sial”. Padahal kulup penis yang dipotong tadi adalah sampah medis, tidak ada hubungannya dengan nasib sial seseorang. Perbuatan dan keyakinan seperti ini juga termasuk keyakinan yang dilarang dalam Islam. Namun, sebagai seorang muslim sebaiknya kita percaya bahwa manusia dan semua bagian tubuhnya berasal dari tanah dan hakikatnya memang harus kembali ke dalam tanah.

Hati-hati terhadap mitos yang beredar, lebih baik cari tahu kebenarannya daripada langsung menelan informasinya mentah-mentah.

More to explorer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *