Fimosis Diduga Penyebab Utama Anak Sering Demam Tanpa Sebab Yang Jelas​

Fimosis Suatu kondisi dimana kulit kulup penis tidak dapat ditarik ke arah belakang karena terjadi perlengketan dengan kelenjar kepala penis diakibatkan oleh kotoran yang terkumpul diantara keduanya. Sekitar 96% laki-laki saat lahir diketahui memiliki kulit kulup yang tidak bisa ditarik. Fimosis dapat bersifat fisiologis atau alami dan juga dapat bersifat patologis atau berupa penyakit.

Fimosis Fisiologis

Fimosis dialami oleh sebagian besar bayi baru lahir karena terdapat perlengketan alamiah antara kulit kulup dengan kelenjar kepala penis. Hingga usia 3-4 tahun penis tumbuh dan berkembang. Kotoran atau smegma yang dihasilkan oleh epitel kulit kulup terkumpul didalam rongga antara kulit kulup dan kepala penis lalu perlahan-lahan memisahkan keduanya. Ereksi penis yang terjadi secara berkala membuat kulit kulup meregang perlahan-lahan sehingga lebih lentur dan dapat ditarik ke arah belakang. Pada anak usia 3 tahun hampir 90 % kulit kulup sudah dapat diregangkan.

Pada fimosis fisiologis hanya menimbulkan gejala kulup sulit untuk diregangkan. Mungkin ada beberapa pembengkakan saat buang air kecil, tetapi rasa sakit saat berkemih atau disuria dan infeksi lokal tidak terlihat dalam kasus ini. Bahkan jika ada infeksi saluran kemih biasanya tidak dikaitkan dengann fimosis. Dengan penarikan yang lembut, pada kerutan kulit kulup dan jaringan di atasnya akan tampak warna merah muda dan jaringan yang sehat. Pada kasus ini fimosis bersifat fisiologis atau alami.

Fimosis Patologis

Kasus fimosis dapat menetap sehingga dapat menyebabkan saluran kemih tertutup. Akibatnya, kulit tampak menggembung saat berkemih, kulit iritasi, infeksi lokal, perdarahan saat berkemih, sakit saat berkemih, episode infeksi saluran kemih yang sering, ereksi yang menyakitkan, aliran urin yang lemah, kadang-kadang terlihat adanya enuresis atau pembendungan urin dan terjadi demam berulang pada anak. Pada kasus ini disebut fimosis patologis atau bersifat penyakit.

Insiden kasus fimosis patologis adalah 0,4 per 1.000 anak laki-laki per tahun. Angka Ini jauh lebih rendah daripada fimosis fisiologis, yang terdapat secara umum pada anak-anak yang lebih muda dan menurun seiring bertambahnya usia.

Penanganan

Fimosis pada anak laki-laki dapat bervariasi dalam tingkat keparahan. Ada banyak klasifikasi pada fimosis patologis dengan kemiripan yang besar. Apabila terjadi kasus fimosis pada putra tersayang, bunda dan ayah tidak dianjurkan langsung melakukan penarikan kulit kulup penisnya, karena dapat menimbulkan luka dan terbentuk jaringan parut pada ujung kulit kulup sehingga akan terbentuk fimosis sekunder. Pada kasus fimosis dengan keluhan yang cukup berat merupakan suatu indikasi untuk dilakukan tindakan sirkumsisi secepatnya. Untuk mengetahui berat ringannya gejala fimosis yang diderita oleh putra tersayang dan tindakan apa yang paling tepat untuk dilakukan sebaiknya bunda dan ayah berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter khitan.