Khitan Pada Bayi, Ini Beberapa Alasanya

Definisi khitan bayi

Pengertian kata bayi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah anak yang belum lama lahir. Menurut ilmu kedokteran bayi merupakan individu yang berusia nol (0) sampai dengan dua belas (12) bulan. Bayi ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan yang cepat disertai dengan perubahan dalam kebutuhan zat gizi (Wong, 2003).

Menurut Soetjiningsih (2004), bayi adalah usia 0 bulan hingga 1 tahun. Periode usia ini disebut juga sebagai usia prasekolah. Arti kata khitan / sunat menurut KBBI adalah berpotong kulup. Arti kata kulup menurut KBBI adalah kelopak kulit yang menutupi ujung kemaluan laki-laki sebelum dikhitan. Jadi definisi khitan bayi adalah tindakan pemotongan kelopak kulit yang menutupi ujung kemaluan pada bayi laki-laki.

*Baca juga : Khitan Pada Usia Bayi, Bolehkah ???

 

Alasan melakukan khitan bayi

1.Alasan agama

Dalam agama Islam berkhitan adalah merupakan sebuah tanda yang terdapat pada tubuh manusia. Tanda tersebut menyatakan bahwa ia sudah masuk ke dalam agama Allah yang dibawa oleh Nabi Ibrahim AS. Khitan merupakan salah satu media pensucian diri dan bukti ketundukan kita kepada ajaran agama. Dalam hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Kesucian (fitrah) itu ada lima:

  • khitan
  • mencukur bulu kemaluan
  • mencabut bulu ketiak
  • memendekkan kumis
  • memotong kuku.

(HR. Bukhari Muslim).

*Baca juga : Sejarah Khitan

 

2.Alasan kesehatan / medis

Penyebab yang paling sering bayi dikhitan adalah karena fimosis. Fimosis merupakan kondisi di mana kulup melekat pada kepala penis dan tidak dapat ditarik kembali dari sekitar ujung penis. Kondisi ini umum terjadi pada bayi maupun anak-anak, khitan dianggap pilihan pengobatan yang terbaik untuk fimosis.

 

3.Alasan budaya

Banyak hal dan alasan yang dipercayai masyarakat Jawa dalam melakukan khitan. Salah satunya adalah untuk kesehatan dan kebersihan alat kelamin serta menghindari anak dari sukerto. Sukerto adalah hambatan yang dibawa dan sejak lahir serta sebagai identitas diri bahwa ia bersuku bangsa Jawa. Dengan begitu masyarakat Jawa percaya, bahwa khitan berfungsi untuk mensucikan diri manusia dan terbebas dari bahaya. Bagi masyarakat Jawa menjalankan dan melestarikan tradisi sangat penting. Karena bagi mereka dengan menjalankan tradisi mereka tidak akan lupa dengan adat istiadat yang telah ditanamkan oleh leluhur mereka. Dan juga mereka tidak akan di singkirkan atau tidak di anggap oleh suku mereka. (Geertz, 1983).

Seperti kutipan pepatah : “Apa yang selalu dilakukan ibu dan ayah yang baik sesuai dengan insting nya untuk bayi mereka adalah selalu yang terbaik dari apapun juga.”

*Baca juga : Biaya Sunat di Klinik “Zaman Now” Tahun 2019

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *